Penerapan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) memiliki beberapa tujuan dalam pelaksanaannya berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
Di dalamnya terdapat 3 (tiga) tujuan utama dalam Penerapan K3
berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
yaitu antara lain :
Minggu, 31 Januari 2016
Selasa, 19 Januari 2016
Klasifikasi Rumah Sakit
Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang
menyediakan pelayanan
rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
1. Rumah
Sakit menetap
adalah rumah sakit yang didirikan secara permanen untuk jangka waktu lama untuk
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perseorangan secara paripurna yang
menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat.
Senin, 11 Januari 2016
Makalah Hypertensi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penduduk
Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota masyarakat yang
semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan hidup. Pada
tahun 1980 penduduk lanjut usia baru berjumlah 7,7 juta jiwa atau 5,2 persen
dari seluruh jumlah penduduk. Pada tahun 1990 jumlah penduduk lanjut usia
meningkat menjadi 11,3 juta orang atau 8,9 persen. Jumlah ini meningkat di
seluruh Indonesia menjadi 15,1 juta jiwa pada tahun 2000 atau 7,2 persen dari seluruh
penduduk. Dan diperkirakan pada tahun 2020 akan menjadi 29 juta orang atau 11,4
persen. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk lanjut usia meningkat secara
konsisten dari waktu ke waktu. Angka harapan hidup penduduk Indonesia
berdasarkan data Biro Pusat Statistik pada tahun 1968 adalah 45,7 tahun, pada
tahun 1980 : 55.30 tahun, pada tahun 1985 : 58,19 tahun, pada tahun 1990 :
61,12 tahun, dan tahun 1995 : 60,05 tahun serta tahun 2000 : 64.05 tahun
(BPS.2000)
Dengan makin
meningkatnya harapan hidup penduduk Indonesia, maka dapat diperkirakan bahwa
insidensi penyakit degeneratif akan meningkat pula. Salah satu penyakit
degeneratif yang mempunyai tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi adalah
hipertensi. Hipertensi pada usia lanjut menjadi lebih penting lagi mengingat
bahwa patogenesis, perjalanan penyakit dan penatalaksanaannya tidak seluruhnya
sama dengan hipertensi pada usia dewasa muda. Pada umumnya tekanan darah akan
bertambah tinggi dengan bertambahnya usia pasien, dimana tekanan darah
diastolik akan sedikit menurun sedangkan tekanan sistolik akan terus meningkat.
Rabu, 16 Desember 2015
Daftar Bupati Tulungagung
Hingga saat ini
tercatat sudah 30 kali Tulungagung mengalami pergantian bupati. Berikut
ini data bupati – bupati yang pernah menjabat di Tulungagung :
- Bupati ke-1 : Kyai Ngabehi Mangoendirono
- Bupati ke-2 : RNg. Mangoen Koesoemo Tondowidjojo
- Bupati ke-3 : RM Mangoennegoro
Ketiga bupati di atas menjabat ketika pusat pemerintahan Ngrowo masih berada di Kalangbret.
- Bupati ke-4 : RMT Pringgodiningrat ( 1824 – 1830 )
Sejak
pemerintahan RMT Pringgodiningrat inilah pusat pemerintahan Ngrowo sudah
pindah ke Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso, seperti yang kita
kenal hingga sekarang sebagai kediaman bupati.
- Bupati ke-5 : RMT Djajadiningrat ( 1831 – 1855 )
- Bupati ke-6 : RMA Soemodiningrat ( 1856 – 1864 )
- Bupati ke-7 : RMA Soemodiningrat ( 1856 – 1864 )
- Bupati ke-8 : RMT Gondokoesoemo ( 1865 – 1879 )
- Bupati ke-9 : RT Soemodirdjo ( 1879 – 1882 )
- Bupati ke-10 : RMT Pringgokoesoemo ( 1882 – 1895 )
- Bupati ke-11 : RT Partowidjojo ( 1896 – 1901 )
Sejak masa pemerintahan bupati ke-11 inilah nama Ngrowo berubah menjadi Toeloengagoeng ( Tulungagung ).
- Bupati ke-12 : Tjokro Adinegoro ( 1902 – 1907 )
- Bupati ke-13 : RPA Sosrodiningrat ( 1907 – 1943 ). Beliau adalah bupati yang paling lama menjabat ( ± 36 tahun )
- Bupati ke-14 : R. Djanoe Ismadi ( 1943 – 1945 ). Saat pndudukan Jepang jabatan ini disebut dengan Kenchoo.
- Bupati ke-15 : R. Moedajat ( 1945 – 1947 )
- Bupati ke-16 : R. Mochtar Prabu Mangkoenegoro ( 1947 – 1950 )
- Bupati ke-17 : R. Moestopo ( 1951 – 1958 )
- Bupati ke-18 : S. Dwidjo Soeparto ( 1958 – 1960 ). Sebenarnya Beliau ini tidak menjabat sebagai bupati, tetapi hanya sebagai Kepala Daerah Swatantra Tk. II.
- Bupati ke-19 : Moch. Doerjat ( 1958 – 1959 )
- Bupati ke-20 : R. Soerjokoesoemo ( 1959 – 1960 )
- Bupati ke-21 : R. Poegoeh Tjokrokoesoemo ( 1960 – 1966 )
Pada masa itu
ada jabatan setingkat bupati, yaitu Kepala Daerah Swatantra Tk. II.
Umumnya jabatan bupati dan Kepala Daerah Swatantra Tk. II ini dirangkap
oleh satu orang, namun di Tulungagung jabatan tersebut terpisah.
- Bupati ke-22 : R. Soendarto ( 1966 – 1968 )
- Bupati ke-23 : Letkol (AURI) R. Soenardi ( 1968 – 1973)
- Bupati ke-24 : Letkol (INF) Martawi Soeroso ( 1973 – 1978 )
- Bupati ke-25 : Singgih ( 1978 – 1983 )
- Bupati ke-26 : Drs. M. Ch. Poernanto ( 1983 -1988 )
- Bupati ke-27 : Drs. H. Jaefoedin Said, MSi ( menjabat selama 2 periode )
- Bupati ke-28 : Drs. H. Achmad Budi Susetyo ( 1998 – 2003 )
- Bupati ke-29 : Ir. Heru Tjahjono, MM ( 2003 – 2013 )
- Bupati ke-30 : Syahri Mulyo, SE., M.Si. ( 2013 – sekarang )
Langganan:
Postingan (Atom)
